Di saat pekerjaan menjadi sebuah keharusan bagi sebagian orang, menjadi pengajar bukanlah suatu pilihan. Upah yang kecil dan seringkali dipandang sebelah mata bukanlah sebuah perkara mudah bagi kebanyakan pemuda yang masih menyimpan ideologi dan cita-citanya. Namun kisah ini menceritakan sisi lain dari sebuah pekerjaan dan impian…
Kisah ini bermula dari sebuah ide unik seorang muda Indonesia untuk menciptakan sebuah program yang bertujuan menciptakan sebuah gerakan mengajar bagi para pengajar muda untuk mengajar selama satu tahun di sebuah tempat di pelosok negeri ini. Indonesia Mengajar sebutannya.
Seorang sahabat yang saya kenal selama empat tahun menempuh studi di Jurusan Hubungan Internasional menjadi salah seorang terbaik yang terpilih menjadi salah satu Pengajar Muda di Indonesia Mengajar, Andita Destriani Hadi namanya. Suatu ketika dalam sebuah percakapan, Dita, begitu panggilannya, membicarakan beberapa hal tentang masa depan bersama saya. Pada kesempatan itu, banyak hal yang saya paparkan kepada Dita tentang rencana-rencana masa depan saya setelah studi usai. Tidak tersirat sedikit pun di dalam benak saya untuk menjadi seorang pengajar.
Namun Dita dengan yakinnya mengatakan ingin dan tertarik untuk menjadi bagian dari sebuah program bernama Indonesia Mengajar. Sekalipun setelahnya saya melihat dan mencari tahu apa itu Indonesia Mengajar, saya belum yakin bahwa itu menjadi tujuan saya.
Melihat karakter Dita yang tegas, saya pikir Dita lebih cocok untuk menjadi seorang Kepala Keuangan atau Manajer di sebuah perusahaan. Ternyata, Dita yang tegas dan bahkan keras kepala, begitu saya menggambarkannya pada saat itu, mampu menginspirasi saya untuk bisa berbuat lebih dari sekedar rencana-rencana yang ingin saya capai di masa depan untuk memulai dari hal-hal terkecil yang bahkan tidak saya inginkan. Mengajar! Entah mengapa, luar biasa bahagianya saya ketika mengetahui bahwa Dita terpilih menjadi salah seorang dari para Sarjana terbaik di Indonesia yang akan menjadi Pengajar Muda di Indonesia Mengajar, seolah-olah saya-lah yang berhasil menerimanya.
Dita menjadi lulusan Hubungan Internasional UNPAD pertama yang saya ketahui berhasil menaklukan ketatnya persaingan pendaftaran Indonesia Mengajar. Saya berulang kali menceritakan kepada beberapa orang teman bahwa pekerjaan yang Dita akan lakukan merupakan pekerjaan paling prestisius yang pernah saya ketahui. Bukan materi yang menjadi alasannya. Bukan pula status sosial yang akan melekat padanya kelak. Namun, Dita berkesempatan untuk mengabdikan dirinya di tempat terpencil di suatu daerah di pelosok negeri ini hanya untuk mengajar.
Di saat pendidikan masih belum tersampaikan secara merata di seluruh pelosok Indonesia, Dita memiliki keyakinan dan kemaun kuat untuk menjadi seorang pengajar. Saya pikir, sebuah cita-cita yang mulia yang mungkin hanya dimiliki oleh sebagian kecil orang. Dalam sebuah renungan, kembali saya melakukan berbagai pertimbangan atas beberapa rencana yang ingin saya lakukan. Akan tetapi, apa yang Dita akan lakukan kembali menginspirasi saya untuk berbuat sesuatu yang tidak hanya berdasarkan materi atau bahkan status sosial yang akan melekat kepada saya melalui sebuah titel pekerjaan.
Di hari Pendidikan Nasional ini, saya ingin mendedikasikan cerita ini bagi Dita yang kelak akan memikul tanggung jawab untuk memajukan pendidikan bangsa melalui Indonesia Mengajar. Semoga, sepenggal kisah tentang Dita mampu menginspirasi teman, sahabat, dan keluarga yang membaca tulisan ini.
“Mulailah cerita besar-mu, dengan langkah kecil pertama-mu”- IM.

Like this mad…saya juga ikut bangga lho Ta……kamu graduate paling keren sejauh ini….(kedua setelah saya lah)..hahahahaha
semangat Ta!!!!!